Cari Blog Ini

Kamis, 06 Oktober 2011


Peran pondok pesantren dalam globalisasi pendidikan


logo2
 






Disusun oleh:
Ali akbar ayatuloh/10390134
Kui-c
Guna memenuhi tugas uas bahasa indonesia
Dosen: Fuad Arif Fudiyartanto, M.Hum., M.Ed.
Fakultas syariah dan hukum
Universitas islam negeri sunan kalijaga
Yogyakarta
2011



DAFTAR ISI:
1.      Bab 1: pendahuluan
2.      Bab 2: pembahasan
a.      Rusaknya moral penerus bangsa
b.      Peran pondok pesantren(PP) sebagai sarana pengendalian sosial
c.       Peran PP dalam menjembatani pendidikan di luarnegri
d.      Wujud pengembangan islam di Indonesia
3.      Bab 3: kesimpulan
4.      Daftar pustaka







BAB 1
PENDAHULUAN
          Dewasa ini, indonesia mulai terkontaminasi oleh produk kebudayaan yang tidak sesuai lagi dengan jati diri bangsa. Budaya yang diimpor seharusnya disaring terlebih dahulu dan kemudian disesuaikan dengan budaya lokal. Tetapi saat ini saringan tersebut telah dijebol oleh arus globalisasi yang sangat keras sehingga masuknya budaya impor tidak lagi terbendung.
         Kemajuan teknologi dan komunikasi yang seharusnya memberi manfaat untuk menambah kesejahteraan bangsa, saat ini malah dapat berpotensi menjadi bom yang dapat menghancurkan negara sendiri. Sebagai contoh, masuknya tontonan-tontonan yang kurang menidik yang banyak menyajikan aksi porno, majalah-majalah seperti majalah playboy, dan situs-situs poro yang mudah diakses oleh semua kalangan, serta masih banyak lagi contoh yang lain. Ditambah lagi dengan kontrol sosial yang kurang kuat oleh masyarakat, sehingga memicu terjadi pergaulan bebas. Dampaknyapun sangat parah karena menyangkut moral generasi muda yang nantinya menjadi penerus bangsa. Tentu saja negara akan mudah hancur apabila  pemudanya tidak bisa memimpin bangsa.[1]
Disinilah peran pondok pesantren(PP) sebagai salah satu agen pengendali sosial, selain agen pengendali sosial yang lain seperti keluarga, sekolah, PT dan lain-lain. Salah satu agen sosial dari sektor agama ini dapat memberikan kontrol terhadap budaya menyimpang tersebut. Karena dalam agama tidak membolehkan(mengharamkan) perbuatan zina dan pemakaian narkoba serta minuman keras. Selain itu, didalam pondok pesantren juga diberikan pendidikan tentang budipekerti dan masih banyak lagi yang lain.










BAB 2
PEMBAHASAN


a.      Rusaknya moral penerus bangsa
Sekarang masyarakat Indonesia mulai mengadopsi budaya-budaya luar yang sebenarnya tidak sesuai dengan jatidiri bangsa. Individualisme yang melanda masyarakat(khususnya kota) telah menggantikan semangat gotong royong yang menjadi jatidiri bangsa indonesia. Rasa kebersamaan dan kemasyarakatan kini mulai luntur oleh sikap individualis dimana setiap individu berpacu untuk memenuhi kepentingan masing-masing. Hedonisme dan sekulerisme pun menambah semangat individual  dalam mencari kekayaan dan kenikmatan dunia bagi mereka.
Yang paling memprihatinkan adalah masuknya budaya pergaulan bebas(terutama sek bebas)  dan pemakaian narkoba. Disini penulis akan memberikan contoh pada kota jogja. Sebagai kota pelajar, jogja dipenuhi oleh para pendatang dari seluruh indonesi yang umumnya para mahasiswa & mahasiswi. Sebagai daerah istimewa, kota jogja juga tiak luput dari budaya kumpul kebo. Hal itu yang biasa dilakukan oleh para muda-mudi dari golongan mahasiswa yang bermukim di kos-kosan.
Berdasarkan penellitian yang dilakukan sejak 16 juli 1999 hingga 16 juli 2002 oleh Iip wijayanto dari lembaga study cinta dan kemanusiaan(LSC&K) serta pusat latihan bisnis dan humaniora(PUSBIH). Menyebutkan bahwa 97,05% mahasiswi dari 1660 responden di yogyakarta, sudah tidak perawan karena pernah nelakukan kegiatan inter-course sek pra nikah selama menyelesaikan kuliah.[2] Tercatat 99,82% mahasiswi sudan mengenal sek dan pernah melakukan kegiatan yang mengarah kesana. 25% atau sekitar 415 responden sudah melakukannya dengan lebih dari satu partner. Dari 1660 responden hanya 3 orang saja yang mengaku sama sekali belum pernah melakukan kegiatan sek, termasuk juga kegiatan seks-self service(masturbasi).[3]
Dari penelitian yang dilakukan Iip wijayanto tersebut jelas telah mencoreng nama baik pendiikan indnesia. Mahasiawa yang seharusnya menjadi motor penggerak bangsa malah akhirnya tidak dapat diharapkan. Dan angkatersebut harus diturunkan dalam upaya pengendalian sosial.
b.      Peran pondok pesantren(PP) sebagai sarana pengendalian sosial
         Disinilah salah satu peran PP yaitu sebagia agen pengendallian soial yang bergerak dari dua aspek yaitu aspek agama dan aspek pendidikan. Di dalam PP santri baik santri MI/MTS/MA maupun dari mahasiswa diberikan pendidikan dan pengetahuan agama.
         Setiap PP mempunyai caranya tersendiri untuk mendidik pera santri-santrinya. Seperti PP yang baraliran salaf dangan kesederhanaannya dan ketaatan santrinya, dan juga PP Modern dengan segala bentunk pengajarannya. Disini penulis akan memberikan contoh selah satu PP yang kini ditempati penulis.
         Yayasan pondok pesantren wahid hasyim(WH). Tidak seperti pondok-pondok salaf lainnya yang yang pengurusan PPnya dipegang oleh Romo Khiyai, PP ini justru dikelola dan dikembangkan oleh santri-santrinya sendiri. Para santri dituntut untuk ikut berorganisasi dalam kepengurusan PP.didalamnya terdapat oswah(organisasi santri WH) yang mengurusi segala sesuatu yang beberkenaan dengan santri; seperti regisrasi, pembayaran amiyah, pembuatan jadwal dirosah, dll. LSP( lembaga sarana prasarana) yangmengurusi pengdaan dan perbaikan sarana prasarana PP.
c.       Peran PP dalam menjembatani pendidikan di luarnegri
         Pesantren NAWASEA(center for the study of islam in north america western europe and southeast asia).3 orang lulusan luarnegri yang semuanya dari beasiswa, mendairikan PP ini sebagai peyaluran ilmu yang mereka dapat dari luarnegri. PP ini berkomitmen minimal santrinya menguasai tiga bahasa; yaitu bahasa arab, inggris dan jerman. Dan mempunyai tarjet agar santrinya bisa melanjutkan studinya di havard univesity.[4]
         Tidak hanya pesantren ini, setiap lulusan pesantren biasanya sudah mempunyai bekal berbahasa  arab yang bisa digunakan sebagai bekal melanjutkan study keislaanya ke luarnegri seperti di al ashar dan yang lainnya.
d.    Wujud pengembangan islam di Indonesia
         Dengan lebih dari 16 ribu pesantren yang tersebar diseluruh indonesia ini berasarkan depag 2004. mungkin jumlah ini sudah meningkat dikarenakan perkembangan isam yang sangat pesat di Indonesia. hal ini tentunya sangat bagus bagi pengenalan agama islam yang lebih mendalam begi remaja muda Indonesia.








BAB 3
KESIMPULAN
         Peran PP di indonesia sangatlah penting sebagai salah satu agen pengendalian sosial. Hal ini dilakukan untuk meindungi dan memperbaiki moral pemuda dari budaya menyimpang. PP juga berperan untuk pengenbangan mutu pendidikan agama dan juga pelatihan organisasi yang nantinya sangat bermanfaat ketika santri sudah terjun langsung ke asyarakat.
         Selain itu, PP juga berperan mengantarkan para intelektual muda untuk meneruskan pendidikanya di kancah internasional. Hal itu dikrenakan santri dari PP seperti pondok tradisional paling tidak menguasai dua bahasa asing; bahasa arab dan inggris. Kemampuan tersebut bukan berarti mereka pinter ngomong, tetapi juga mampu berfikir dengan konteks bahasa asing tersebut.[5] Berbeda ngengan seseorang lulusan pendidikan formal lain yang harus kursus bahasa asing terlebih dahulu sebelum melanjutkan study di luar negri.
         PP juga berperan sebagai motor penggerak perubahan(neo-modernisme islam indonesia)[6] karena lewat PP-lah agama di Indonesia bisa berkembang.













DAFTAR PUSTAKA

1.http://www.suaramerdeka.com/cybernews/harian/0208/01/diy1.htm Kamis, 1/08/02 : 23.48 WIB. idem ///I:/tgs%20b.%20indonesia/9705-mahasiswi-yogya-tak-perawan.html 28 Januari 2011 15:39:00 (dikses tgl.28-1-2011 jam 09.00 WIB)
2.Wahyudi,Yudian. Usul Fikih versus Hermeneutika Membaca Islam dari Kanada dan amerika.PesantrenNAWASEAPress.2007

Bahan bacaan:
1. Iip wijayanto. Kampus Fresh Cicken (Ayam kampus).
2. Majalah NU. 2008
3.Majalah al hidayah. Pondok Pesantren Wahid hasyim



[1] Disini penulis tidak ke sejarah pesantren, tetapi lebih memandang kemasa depan.
[2] http://www.suaramerdeka.com/cybernews/harian/0208/01/diy1.htm Kamis, 1/08/02 : 23.48 WIB. idem ///I:/tgs%20b.%20indonesia/9705-mahasiswi-yogya-tak-perawan.html 28 Januari 2011 15:39:00 (dikses tgl.28-1-2011 jam 09.00 WIB)


[3] Ibid.

[4] Lihat di majalah NU 2008
[5] Yudian Wahyudi,2007.”Usul Fikih versus Hermeneutika Membaca Islam dari Kanada dan Amerika.” Hal. 55
[6] Ibid.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar